Upaya Kreatif dan Inovatif Industri Gula Dalam Mempercepat Swasembada Gula di Indonesia

Kebutuhan konsumsi gula nasional tiap tahun yang mencapai 5,3 hingga 5,7 juta ton merupakan tantangan berat pemerintah mengingat produksi gula nasional masih berkutat pada capaian 2,8 juta ton. Artinya Indonesia masih mengalami defisit gula sebesar 50% dari total konsumsi. Sebuah angka persentis yang cukup besar bagi suatu negara agraris.

Sejarah telah mencatat bahwa negeri ini pernah menjadi eksportir gula terbesar di dunia. Pada tahun 1930 hanya negara Kuba yang mampu melawan kedigdayaan Indonesia dalam eksportir gula di dunia, bahkan hingga tahun 1950, Brasil adalah satu-satunya negara yang bisa mengimbangi produksi Indonesia di kancah pergulaan dunia. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki ‘gen juara dunia’ dalam produksi gula. Namun yang terjadi saat ini Indonesia berubah menjadi salah satu negara pengimpor gula terbesar di dunia. Akibatnya, trilyunan rupiah devisa negara ini tergerus untuk menutup kebutuhan gula nasional.

Menyikapi fakta pahit ini pemerintah sejak pertengahan tahun 1999 lalu telah berupaya serius memperbaiki kondisi dengan mencanangkan program Swasembada Gula Nasional yang diikuti dengan penyusunan roadmap, mengeluarkan regulasi, menetapkan target program kerja tahunan, hingga persiapan skim pembiayaannya. Langkah positif pemerintah ini selayaknya disambut dengan antusias oleh semua stakeholders pergulaan nasional dengan sepenuh hati.
Sejak awal digulirkannya program swasembada gula nasional, laju peningkatan produksi gula dalam negeri menunjukkan gambaran grafik sinusoida yang naik turun setiap tahunnya, dengan tren kenaikan yang belum signifikan. Hal ini menandakan bahwa dalam pelaksanaannya, program ini menghadapi hambatan laju peningkatan. Segala permasalahan perlu diidentifikasi secara cermat guna menetapkan solusi, arah, dan kebijakan dengan tepat.

Permasalahan Petani Tebu dan On Farm
Banyak petani pemilik atau pengelola lahan tidak lagi melihat komoditas tebu sebagai satu-satunya komoditas yang menarik dan dapat diandalkan. Artinya, petani tebu leluasa mengalihkan lahan tebunya menjadi komoditas selain tebu. Dapat dipastikan hal ini akan mempengaruhi luasan areal tebu dan angka produksi gula.

Fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa harga sewa lahan pertanian semakin tinggi. Hal ini dipastikan akan memperbesar pengaruh pada luasan areal tebu. Petani dalam memperoleh lahan akan dihadapkan pada risiko keuntungan usaha yang semakin menipis, sekaligus menanggung biaya awal yang semakin tinggi.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan total luas tanaman tebu di Jawa Timur sekitar 250.000 hektar, dan secara menyeluruh luasan areal tebu di Indonesia berkisar 470.000 hektar. Pada lahan seluas itu, diprediksikan produksi gula hanya mencapai 1,3 juta ton. Gambaran ini menunjukkan bahwa sulitnya menambah areal tebu dan mempertahankan areal tebu yang sudah ada menjadi sebuah permasalahan dan tantangan tersendiri.

Dari sisi produktivitas tebu, beberapa faktor penyebab rendahnya capaian yang hanya 56 ton per hektar dengan raihan rendemen di bawah 7 persen, diantaranya adalah penataan varietas yang tidak ideal, ketersediaan jumlah dan kualitas bibit, keterbatasan infrastruktur khususnya lahan di luar pulau Jawa, kurangnya sarana irigasi pada lahan kering, serta penerapan teknologi budidaya dan teknologi tebang muat angkut yang belum optimal. Sedangkan untuk mencapai swasembada gula nasional, Asosiasi Gula Indonesia (AGI) berpandangan bahwa selain adanya penambahan areal tebu seluas 350.000 hektar, upaya keras yang harus dicapai adalah produktivitas tebu di atas 120 ton per hektar dengan rendemen 10 persen.

Permasalahan Produsen Gula dan Off Farm
Rendahnya penerapan otomasi pabrik, ekstraksi gula yang kurang optimal, dan overall recovery pabrik gula yang masih jauh di bawah standar akan mempengaruhi produktivitas gula yang dihasilkan. Tercatat, banyaknya produksi gula dengan ICUMSA diatas angka 150 IU, bahkan terdapat beberapa pabrik gula dalam negeri masih menghasilkan gula dengan ICUMSA di atas 250 IU. ICUMSA merupakan salah satu paramater untuk menentukan kualitas gula. Semakin kecil nilai ICUMSA, kualitas gula semakin baik dan warnanya juga makin putih jernih.

Dari sudut pandang biaya, inefisiensi pabrik mengakibatkan tingginya biaya produksi sehingga daya saing usaha pun akan semakin berat. Kecilnya angka produktivitas gula, rendahnya kualitas gula, serta tingginya biaya produksi pabrik gula, dapat menjadi tolok ukur besaran masalah pada domain off farm.
Revitalisasi industri gula yang menjadi salah satu program kerja antara pemerintah dengan produsen gula sejak 2007 lalu, ternyata belum efektif menyasar pada perbaikan pabrik secara menyeluruh. Sehingga hasil dari revitalisasi off farm yang diharapkan bisa memperbesar angka produksi gula pun belum terlihat hasil yang menggembirakan.

Permasalahan Lainnya
Masih lemahnya fungsi dan dukungan lembaga pembiayaan yang medukung penuh organisasi petani tebu (APTRI), kebijakan pemerintah dalam menjamin pendapatan petani, kebijakan importasi gula dan fiskal yang belum sepenuhnya mendukung pengembangan industri gula, merembesnya gula rafinasi ke pasar tradisional yang berimbas pada kacaunya harga gula di pasar merupakan masalah yang mempengaruhi produksi gula.

Subsidi Hilir Pemicu Produktivitas Petani Tebu
Bila mencermati sederet permasalahan di atas, upaya keras dengan terobosan kreatif dan inovatif harus dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat, diantaranya petani tebu, produsen gula nasional, dan tentu saja pemerintah mulai pusat hingga tingkat desa, agar percepatan pencapaian program ini dapat direalisasikan.
Skema subsidi yang saat ini masih terfokus pada hulu, seperti subsidi pupuk, sudah saatnya mulai dititikberatkan pada subsidi di area hilir yaitu subsidi pada harga jual gula. Saat harga gula berada dibawah ketetapan, pemerintah memiliki kewajiban mensubsidi selisih harga gula sehingga harga jual gula petani dapat dijamin besaran nilainya. Pemerintah harus mendapatkan masukan wacana ini secara lengkap berikut analisisnya sebagai titik picu peningkatan produktivitas tebu petani.

Upaya ini akan berdampak besar dan nyata karena petani akan lebih fokus pada upaya perbaikan lahan, perbaikan unsur hara tanah, penyempurnaan budidaya, pengoptimalan produksi tebu, dan peningkatan kualitas tebu manis, bersih, segar (MBS) sesuai kriteria baku teknis tanam tebu. Petani tidak lagi terbebani kekhawatiran terhadap prediksi harga jual gulanya di kemudian hari yang penuh ketidakpastian dengan risiko kerugian.

Dampak positif berikutnya, konsentrasi petani akan terpusat pada efisiensi biaya. Saat berada pada fase ini, bilamana pola mekanisasi dipandang mampu meningkatkan efisiensi biaya, maka petani bisa menjadi pihak terdepan dalam pelaksanaaan baku teknis penanaman tebu secara mekanisasi, mulai dari buka lahan, pengaturan pola tanam, teknis penanaman/keprasan, pengairan lahan, perawatan tanaman, bahkan tebang muat secara mekanisasi. Semangat meningkatkan efisiensi biaya garap kebun dan perawatan tebu akan menjadi budaya para petani tebu.

Bagai bola salju, dampak positif ini akan terus menggelinding menuju fase-fase berikutnya. Rentetan dari pola mekanisasi ini akan mengarah pada sinergi dengan petani tebu lain dan pengelola lahan tebu yang berdekatan lokasinya guna lebih menekan biaya. Dapat dibayangkan jika seluruh petani tebu saling dukung dan bersinergi dalam pengelolaan lahannya, maka bukan hanya aspek budidaya saja yang tersentuh, aspek terkait lainnya akan mengikuti, seperti pengaturan pengairan kebun, pengelolaan tenaga kerja di kebun, pemilihan varietas, penyediaan bibit, pola tanam, hingga pola tebang pun akan ter-sinergi-kan pula. Bahkan bila diperlukan ketersediaan tenaga ahli, penerapan teknologi baru, implementasi hasil riset, hingga pada dukungan perangkat desa pun akan lebih mudah didapatkan.

Secara psikologis petani tebu juga akan merasa dilindungi pemerintah. Gairah untuk menanam tebu akan kembali hadir. Mental dan karakter sebagai petani tebu akan semakin kuat terbentuk. Tidak perlu lagi repot menjadi amphibi di dua dunia: menjadi petani sekaligus pedagang tebu untuk mengantisipasi kerugian. Bayang-bayang gelap mendapati kerugian panen, kecil kemungkinan akan dialami. Saat fase dan kondisi ini bisa dicapai, maka produktivitas petani tebu yang diharapkan bisa mencapai 120 ton per hektar dengan rendemen 10 persen secara mandiri akan lebih cepat diraih.

Upaya Produsen Gula Nasional
Para produsen gula nasional sebagai pihak terdekat petani tebu, termasuk diantaranya PTPN XI, juga dituntut melakukan upaya luar biasa untuk mengimbangi peningkatan produktivitas tebu petani. Dukungan yang bisa dilakukan pabrik gula berupa kepastian waktu panen, kepastian penyerapan bahan baku tebu dari petani, keterbukaan informasi, pelayanan prima bagi petani tebu, bantuan teknis pada permasalahan di kebun, serta peran sebagai fasilitator antara petani tebu dengan pemerintah maupun pihak lain.

Tuntutan adanya kepastian waktu panen tebu dan kepastian penyerapan tebu menjadikan peningkatan kapasitas pabrik gula menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi. Lonjakan produksi tebu tanpa dibarengi dengan peningkatan kapasitas giling, bisa berdampak serius dengan banyaknya tebu yang akan terbengkalai karena terlambat digiling, bahkan tidak tergiling. Jika kondisi ini terjadi, pabrik gula akan menegasikan kesuksesan petani tebu dalam meningkatkan produktivitasnya dan menjadikan kondikte buruk pabrik gula. Segala upaya keras yang dilakukan petani tebu menjadi tidak ada artinya. Maka, saat terlihat angka produktivitas tebu petani menunjukkan kenaikan, ini harus dijadikan indikator untuk memperbesar kapasitas pabrik gula. Agar optimal, peningkatan kapasitas pabrik ini harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari awal stasiun gilingan hingga stasiun akhir secara terintegrasi.

Langkah berikutnya adalah memastikan seluruh indikator proses pengolahan tebu menjadi gula berada pada tingkat efisiensi tertinggi. Sebuah tantangan yang besar bagi pabrik gula.

Bongkar Ratoon sebagai Pengungkit Produksi
Dalam catatan analisis Tim Peneliti Badan Litbang Pertanian menunjukkan komponen pengungkit terbesar produksi tebu adalah melalui program bongkar ratoon 20% dari total luasan kebun tebu rakyat. Hal ini menyisakan permasalahan yang sama yaitu ketersediaan lahan, selain ketersediaan jumlah bibit. Skenario dalam mengatasi permasalahan ini dapat dilakukan dengan penambahan luasan areal kebun bibit secara bertahap mulai 5% berangsur menuju 20%. Di sini terlihat P3GI sebagai lembaga peneliti dan penyedia bibit tebu yang berkualitas dapat berperan besar.
Demikian pula dengan pabrik gula, diharapkan bisa memperbesar kesuksesan program bongkar ratoon ini dengan dengan upaya perencanaan penataan varietas yang baik, serta adanya insentif bagi petani yang bersedia melakukan bongkar ratoon.

Peran Pemerintah dan Tanggung Jawab Pengembangan Industri Gula
Efektivitas menuju percepatan program swasembada gula ini tak luput dari peran vital pemerintah. Terdapat beberapa regulasi yang perlu dicermati, yaitu PP no 17/1986 dan kebijakan importasi gula. Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 1986 tentang kewenangan pembinaan dan pengembangan industri gula yang dibebankan hanya kepada Kementerian Pertanian, dirasa kurang efektif karena selain terlalu besar lingkupnya dengan tanggung jawab yang besar, juga berpotensi overlapping antar lembaga.

Ada baiknya PP no 17/1986 untuk ditinjau ulang. Urusan industri pergulaan di Indonesia idealnya berada di bawah kewenangan Kementerian Perindustrian. Kewenangan mengatur regulasi dan mengeluarkan kebijakan perdagangan gula, termasuk di dalamnya tata niaga gula berada dalam tanggung jawab Kementerian Perdagangan. Diharapkan peran Kementerian BUMN untuk segera menata kembali hal tersebut dapat dilakukan, sehingga Kementerian Pertanian bisa mengarahkan perhatian penuh pada urusan peningkatan bahan baku tebu secara efektif.

Tidak kalah pentingnya, kebijakan importasi gula Kristal putih maupun gula rafinasi perlu untuk dicermati agar tidak mengganggu tata niaga gula lokal. Pemerintah mempunyai kewajiban untuk melindungi kepentingan petani tebu dan produsen gula nasional. Upaya yang bisa dilakukan adalah dengan mengatur waktu importasi gula yang tidak bersamaan dengan waktu giling, menetapkan tarif bea masuk, pajak, retribusi, dan pungutan lain yang bisa dialokasikan untuk pengembangan produktivitas tebu lokal. Upaya lain yang perlu dilakukan adalah menetapkan perlakuan dan fasilitas yang adil antara importir gula kristal putih dan gula mentah (raw sugar) untuk rafinasi, selain menjaga agar hasil gula rafinasi tidak merembes ke pasar tradisional.

Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perekonomian dunia, rata-rata konsumsi gula dunia menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Semua pihak perlu menyadari bahwa peningkatan produksi gula nasional merupakan keharusan yang tidak bisa dihindari. Para pelaku industri gula di semua level dituntut lebih keras untuk berupaya, bersinergi, saling bahu-membahu untuk mendukung percepatan ini, sehingga program swasembada gula nasional memiliki akhir cerita yang indah.
Sudah lama rakyat negeri ini, negeri yang telah ditakdirkan sebagai juara dunia pada sektor gula, memimpikan keberhasilan kedaulatan pangan. Tidak berlebihan jika keberhasilan percepatan program pemerintah ini akan mampu mengangkat kembali jiwa nasionalisme rakyatnya. Sebuah kerinduan panjang rakyat negeri ini untuk segera mewujudkan mimpinya.
Semoga.

Bulan Penuh Berkah

Ramadhan 1434H. Malam ke 23.
Sepertinya hari ini adalah hari dimana semua yang namanya karyawan atau pegawai di perusahaan mengharapkan hal yang sama, ya THR. Tunjangan hari raya.
Gak ada yang salah dengan THR. Namun apa yang saya pikirkan agak berbeda tentang THR ini. Ada sebuah pemberian lebih diluar gaji dari perusahaan. Boleh dibilang rejeki. Memang bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Ada benarnya juga. Bagi karyawan THR ini boleh disebut berkah. Bagi penjual makanan, ada waktu yang istimewa saat menjelang berbuka, menjelang maghrib. Ramai-ramainya pembeli yang kalap dengan menu berbuka puasa, menjadikan berkah bagi penjual makanan. Penjual baju Dan kain apalagi. Tak bisa dipungkiri, hari-hari menjelang Idul Fitri merupakan ‘hari raya’ transaksi di tokonya. Berkah bagi mereka.
Bagi ustadz dan penceramahpun demikian pula, panen jadi pembicara. Mulai ceramah-ceramah ramadhan, kultum, hingga menjadi imam tarawih. Gak salah memang jika Ramadhan disebut bulan penuh berkah. Bagaimana tidak, urusan duniawi seperti di atas saja sudah terlihat berrkahnya. Belum lagi yang dijanjikan Allah tentang keutamaan di bulan suci ini. Bonus berkah dimana-mana.. Bener-bener bulan penuh berkah.

Manufacturing Hope-nya Pak Dahlan

Tag yang di create oleh Dahlan Iskan tidak lama setelah menjabat Menteri BUMN memang telah banyak beredar terutama di dunia maya. Bukan ingin ikut nimbrung pada tag yang sedang ramai, tapi terus terang perhatian saya sedikit tercuri oleh tulisan beliau di media offline beberapa hari lalu.

Kata Manufacturing hope pertama kali saya dengar memang tidak menyiratkan sesuatu yang menarik. Entahlah, mungkin karena menggunakan bahasa asing, sehingga tidak terjiwai oleh hati saya, hehehe… Ternyata setelah di-Indonesia-kan pun belum menyetuh hati saya: Industrialisasi harapan, masih merupakan kata yang asing bagi saya. Harapan kok di industri-industrikan, begitu sederhananya logika saya. Memang kalo menyoal tentang intlegensia bahasa, saya tegas mengakuinya: Gak bakat! hahaha..

Akhir Nopember lalu beliau dengan lugasnya menuliskan betapa merananya kondisi hotel-hotel BUMN di Bali. Meski dukungan berupa letak strategis dan aset yang luar biasa, tidak mampu menopang beratnya daya saing terhadap hotel-hotel baru yang terus bertumbuh di sekitarnya. Hotel-hotel BUMN tersebut bagaikan meluncur turun ke dalam jurang kemerosotan dan kekumuhan. Demikian tulisan beliau.

Dengan gaya khasnya Dahlan Iskan menuliskan kondisi yang demikian dengan mengobservasi sedekat mungkin ‘hawa’ dan ‘rasa’ di titik lokasinya, saat berada di sela-sela acara KTT Asean di Bali. “Saya perhatikan mulai dapurnya, ruang cucinya, kamarnya, kebunnya, pantainya, hingga cottage-cottage-nya. Ternyata benar. Bukan hanya telah menjadi yang terjelek di Nusa Dua, tapi juga sudah mau ambruk. Di sini saya juga harus manufacturing hope. Tahun depan hotel yang sangat luas ini harus sudah mulai dibangun ulang.” Demikian kutipan tulisan beliau.

Saya cuplik ini bermaksud untuk menggambarkan demikian parahnya kondisi yang terjadi di sana. Menteri BUMN ini mengkomunikasikan manufacturing hopenya dengan detil-detil permasalahan pelik yang mengitari obyeknya. Tapi dengan menegaskan kekuatan-kekuatan dan potensi obyeknya, mantan Dirut PLN ini dengan jeli menggugah semangat semua pihak untuk membuka impian dan harapan dari berbagai aspek. Ya kekuatan sejarahnya, ya lokasi strategisnya, ya potensi SDMnya, pertumbuhan devisanya, dan berbagai aspek lainnya. Bahkan diselingi dengan ide-ide sederhana yang berdampak besar.

Oooh, begini to maksud manufacturing hope-nya Pak Dahlan itu. Bahwa segala kerumitan dan keruwetan permasalahan yang terlihat begitu erat mencekeram ternyata tidak sebanding jika fokus sudut pandangnya sedikit ‘dialihkan’ kepada besarnya potensi dan kemungkinan-kemungkinan positif yang muncul jika kita melakukan sesuatu. Demikan, saya makin ‘ngeh‘ istilah manufacturing hope sang Menteri BUMN apalagi setelah membaca paragraf terakhirnya:

Memang sebulan pertama ini baru hope yang bisa dibangun. Tapi, kalau sebuah hope bisa membuat hidup kita lebih bergairah, mengapa kita tidak manufacturing hope. Bahan bakunya gampang didapat: niat baik, ikhlas, kreativitas, tekad, dan totalitas. Semuanya bisa diperoleh secara gratis!

Selamat berindustrialisasi harapan, pak. Sukses!

Rokok vs Bintang Iklan Tanpa Kutang

Keterlihatan seseorang yang merokok di tv akan secara tegas di sensor oleh rumah produksi atau stasiun televisinya kalau tidak ingin mendapat teguran dari badan sensor yang berwenang. Ada aturan yang mengatur tentang itu. Iklan rokok pun tidak sembarangan jam tayangnya. Jangankan adegan merokok, terlihat bentuk fisik rokoknya, walau sedikit, langsung di sensor. Gak boleh! Pokoknya urusan yang ini, jempol banget deh..

Demikian juga pada sinetron, jika sedikit saja terlihat bentuk rokok atau kegiatan merokok, CUT!! Langsung sensor. Salut sebenarnya melihat ketegasan aparat negeri ini dalam hal sensor rokok. Sebenarnya bisa juga kan ketegasan dijalankan di negeri ini? Buktinya, ya rokok itu.

Anehnya adegan merokok jauh lebih ‘haram’ dari pada siaran berbau pornografi, yang mempertontonkan paha dan pameran pusar para penyanyi dan artis film maupun sinetron. Lebih ‘haram’ dari minimnya rok-rok yang dipakai penari-penari yg berjoget2 di panggung dalam acara live show di tv, lebih haram dari judul-judul film yang berkonotasi birahi, lebih haram dari iklan-iklan sabun dan kosmetik yang memperlihatkan punggung si bintang iklan tanpa kutang. Kontras!

Kenapa ya masalah rokok bisa tegas dan langsung direspon, sedangkan hal-hal berbau pornografi, tidak? Apakah karena alasan murahan bahwa ‘pamer aurat selama untuk hiburan adalah bagian dari seni’ bisa mematahkan ketegasan untuk tidak disensor? Alasan seni? Alasan budaya? Kalau seperti itu, apakah juga diterima jika merokok adalah bagian dari seni? Rokok bagian budaya? Bisakah diterima? Sungguh, tidak ada yang lebih menggelikan dari pihak berwenang yang membuat statemen buka aurat adalah seni dan bukan pornografi. Sungguh menggelikan.

Seharusnyalah pihak berwenang memberlakukan ketegasan yang sama tentang pornografi seperti halnya rokok. Toh, hanya orang-orang tertentu yang menganggap pornografi adalah seni.

Memang merokok perlu diwaspadai penyebarannya. Tapi apakah krisis moral tidak bisa mewabah sehingga tidak perlu sensor yang ketat dan tegas? Pertanyaan yang bodoh ya? Andai anak tetangga saya yang berusia 5 tahun itu sudah mengerti masalah ini, dia pasti akan spontan menjawabnya sambil tertawa geli..

Just My Opinion

Just share my opinion. Sejenak kita kenang kembali masa sekolah dulu. Masa masa belajar dari textbook, masa-masa mengerjakan PR dari diktat sekolah. Rasanya masih terbayang wajah-wajah para guru kita yang begitu mulia sedang menerangkan materi dari buku diktat kala itu.

Sekarang, setelah kita lepas dari bangku sekolah dan terjun langsung ke kehidupan sesungguhnya, baru kita sadari bahwa praktek yang seharusnya menjadi inti dari pendidikan itu sendiri sangatlah minim. Sangat kecil prosentasenya dibanding seabrek-abrek materi yang tertulis di buku pelajaran kita.

Sekali lagi, inti dari pelajaran adalah praktek. CMIIW. Kalo kita mau jujur, apa sih gunanya ujian sewaktu kita sekolah dulu? Ingin lulus? Jujur, apa yang ingin dicapai dengan model ujian seperti sekolah kita dulu? Kalaupun hafal materi-materi yang diajarkan tapi tidak dipraktekkan, lha buat apa? Kalau sekedar ingin lulus, mendingan materi ujiannya saja yang diajarkan sejak kelas satu untuk dihapal. Selesai urusan, hemat waktu.

Produk dari pendidikan negeri ini adalah kita sendiri. Kita bisa membahas model seperti ini karena memang kita sudah melakukannya, bahkan sudah lulus dari sekolah itu. Sekali lagi, jujur saja, apa manfaat hafalan di sekolah dulu untuk kehidupan kita sekarang? Tetap ada sih manfaatnya. Tapi seberapa besar manfaatnya? Seberapa besar pengaruhnya sekarang?

Menguasai hafalan sedikit sekali artinya jika tidak dibarengi dengan prakteknya. Meski itu hafalan surat dari kitab suci sekalipun, tanpa praktek jadinya akan non-sens !

Di Eropa, pelajaran anak kelas 6 SD setara dengan kelas 2 SD di Indonesia. Bukan bermaksud mengagung-agungkan dan mengkiblatkan diri pada negara maju, tapi sekedar menyajikan contoh model pendidikan yang berbeda dengan kita di sini. Kebetulan saja Eropa punya model yang berbeda. Bagi mereka BASIC lebih penting. Walau sedikit tapi benar-benar dikuasai.

Kita sebagai produk dari model pendidikan negeri ini telah merasakan betul hasil pendidikan kita dulu. Selama sekian tahun di usia dasar, waktu kita tercuri untuk fokus pada sebagian kecil kecerdasan saja. Itupun tidak maksimal. Segalanya diukur dengan iklim kompetitif berupa nilai kuantitatif di rapor. Sedikit sekali kita berkesempatan untuk mengembangkan kreativitas sesuai kecerdasan yang kita miliki. Jiwa inovasi dalam diri kita secara bertahap tergerus dari waktu ke waktu, dan berbanding terbalik dengan mental rasa ‘takut salah’ kita yang menumpuk dari waktu ke waktu.

Sekarang saatnya kita membandingkan dengan kurikulum anak-anak kita saat ini. Metode pengajaran yang dilakukan jauh lebih maju, alat peraganya pun demikian. Guru-guru yang mengajarpun semakin bermutu dan semakin kreatif. (untuk para guru, disini saya sampaikan salam takzim dan rasa hormat saya yang setinggi-tingginya). Namun, ironisnya model pendidikan yang diterapkan tetaplah sama: Full teori minim praktek. Bahkan lebih sadis lagi, materinya semakin ditambah-tambah. Lha buat apa? Mestinya materi prakteklah yang harus ditambah porsinya.

Andil dalam membentuk basic untuk anak-anak kita demi kehidupannya kelak akan menjadi tanggung jawab kita. Bagi kita yang fokus pada potensi dasar anak, tentunya tidak akan ada pengaruh besar dengan model kurikulum pendidikan formal saat ini, bagaimanapun bentuknya. Tidak perlu ambil pusing dengan nilai-nilai rapornya. Tidak perlu risau jika nilai anak kita lebih rendah dibanding teman-temannya. Tidak perlu memaksakan harus ikut pelajaran tambahan (les) pada anak. Hal yang demikian pasti terjadi bagi kita yang telah mengetahui potensi dasar anak kita, dan berkesempatan untuk mengembangkan bakat dan minat sang anak.

Namun bagi yang lain, simbol-simbol nilai rapor masih menjadi fokusnya dan menganggap itu sebagai satu-satunya tolok ukur kesuksesan anak tanpa mau tahu potensi yang dimiliki si anak. Kasihan anak kita. Demi tuhan, kasihan. Sang anak kita paksa untuk masuk ke alam tekanan jiwa. Usia mereka masih terlalu dini. Kita telah memperkenalkan rasa takut jika bernilai jelek pada anak kita, rasa takut tidak naik kelas, rasa takut tidak lulus. Percaya atau tidak, semua ketakutan itu sama sekali tidak bernilai. Sungguh tidak bernilai. Kasihan anak kita.

Semoga kita sebagai orang tua tidak mengabaikan POTENSI anak-anak kita demi mengejar simbol berupa nilai rapor yang (masih) menjadi indikator sukses dari model pendidikan formal di negeri ini.

Mohon sampaikan salam saya buat anak anda, sang Masterpiece yang akan membuat anda bangga padanya kelak.

*

Mulai Menulis Blog lagi.

Hari Jumat, waktunya pulang ke rumah. Tapi ku sempatkan dulu untuk menulis sesuatu mumpung masih ada waktu. Hal ini harus aku paksakan, karena sudah bertahun-tahun blog-ku ini nganggur tak bertuan dan begitu berdebu karena tak terjamah tangan manusia… *halah*

Memang tidak ada ayat maupun hadits yang mewajibkan untuk menulis bagi manusia di dunia ini. Namun jika aku tidak mewajibkan diri, mana bisa ada waktu untuk menulis? Makanya biar nggak kaku jari-jari ini, aku wajibkan diri untuk menulis, dah.. Eit, tunggu, tunggu.. Jangan-jangan ada yang salah tafsir lagi. Kata “wajib” disini maksudku untuk diriku sendiri lho ya, bukan untuk anda atau orang lain. Bisa-bisa aku dituduh bid’ah nanti. Haddeuh!

Oke, mulai nulis. Tapi, nulis apa ya? Punya ide nggak? Nggak lucu kan judulnya aja tentang menulis, tapi nyatanya nggak ada yang ditulis. Intinya, tulisan ini tentang membangkitkan gairah nafsu, eh, gairah menulis yang telah pupus karena bertahun-tahun tidak menulis. Kira-kira begitulah. Masih nyari ide.

Sekian menit berlalu, kok ide ku untuk tulisan ini belum nongol-nongol juga ya. Aduh, jangan-jangan karena kelamaan nggak nulis di blog, aku sudah nggak punya kemampuan untuk nulis lagi.. Hiii.. ngeri. *begidig* Tapi, bagaimanapun juga aku harus berjuang! Harusss (pake s tiga biji) berjuang tanpa kenal lelah, pantang menyerah. *tapi masih bengong*

Gimana nih? anybody help me, please.. Kasih ide dong, aku mau nulis nih. Bapak-bapak, ibu-ibu, siapa yang punya anak bilang aku, aku yang tengah malu.. Eh, kok malah nyanyi lagu Cari Jodohnya Wali sih. Maksudku siapa saja yang punya ide untuk bahan tulisanku ini, tolong bantuin aku. Dari tadi belum satu paragraf pun aku tulis. Apa benar ya, kalo menulis itu susah? *lebai dot com*

Tunggu! Satu, dua, tiga, empat, lima paragraf!! Sekarang yang ke-enam. Cihui.. Ternyata tak sengaja, lewat depan rumahmu.. Eit, malah nyanyi *tenda biru* lagi. Tak sengaja tulisanku ini sudah masuk semester ke-enam. Eh salah! Masuk pada paragraf ke-enam, bung! Kata siapa menulis itu susah? Nyatanya, tanpa ide pun jadi enam paragraf yang terdiri dari 360 kata. Wooii, ternyata mudah. Wuih, jadi semangat nulis lagi nih. Ayo semua, mari budayakan menulis. Ingat, goresan tinta yang luntur lebih berharga daripada ingatan. Artinya? Yups, sepenting apapun sesuatu, lebih bermanfaat jika dituliskan daripada sekedar dalam bayangan. OK? Let’s writting!!

Bukti Pembayaran

Ini bukti pemasukan di akunku

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.