Manufacturing Hope-nya Pak Dahlan

Tag yang di create oleh Dahlan Iskan tidak lama setelah menjabat Menteri BUMN memang telah banyak beredar terutama di dunia maya. Bukan ingin ikut nimbrung pada tag yang sedang ramai, tapi terus terang perhatian saya sedikit tercuri oleh tulisan beliau di media offline beberapa hari lalu.

Kata Manufacturing hope pertama kali saya dengar memang tidak menyiratkan sesuatu yang menarik. Entahlah, mungkin karena menggunakan bahasa asing, sehingga tidak terjiwai oleh hati saya, hehehe… Ternyata setelah di-Indonesia-kan pun belum menyetuh hati saya: Industrialisasi harapan, masih merupakan kata yang asing bagi saya. Harapan kok di industri-industrikan, begitu sederhananya logika saya. Memang kalo menyoal tentang intlegensia bahasa, saya tegas mengakuinya: Gak bakat! hahaha..

Akhir Nopember lalu beliau dengan lugasnya menuliskan betapa merananya kondisi hotel-hotel BUMN di Bali. Meski dukungan berupa letak strategis dan aset yang luar biasa, tidak mampu menopang beratnya daya saing terhadap hotel-hotel baru yang terus bertumbuh di sekitarnya. Hotel-hotel BUMN tersebut bagaikan meluncur turun ke dalam jurang kemerosotan dan kekumuhan. Demikian tulisan beliau.

Dengan gaya khasnya Dahlan Iskan menuliskan kondisi yang demikian dengan mengobservasi sedekat mungkin ‘hawa’ dan ‘rasa’ di titik lokasinya, saat berada di sela-sela acara KTT Asean di Bali. “Saya perhatikan mulai dapurnya, ruang cucinya, kamarnya, kebunnya, pantainya, hingga cottage-cottage-nya. Ternyata benar. Bukan hanya telah menjadi yang terjelek di Nusa Dua, tapi juga sudah mau ambruk. Di sini saya juga harus manufacturing hope. Tahun depan hotel yang sangat luas ini harus sudah mulai dibangun ulang.” Demikian kutipan tulisan beliau.

Saya cuplik ini bermaksud untuk menggambarkan demikian parahnya kondisi yang terjadi di sana. Menteri BUMN ini mengkomunikasikan manufacturing hopenya dengan detil-detil permasalahan pelik yang mengitari obyeknya. Tapi dengan menegaskan kekuatan-kekuatan dan potensi obyeknya, mantan Dirut PLN ini dengan jeli menggugah semangat semua pihak untuk membuka impian dan harapan dari berbagai aspek. Ya kekuatan sejarahnya, ya lokasi strategisnya, ya potensi SDMnya, pertumbuhan devisanya, dan berbagai aspek lainnya. Bahkan diselingi dengan ide-ide sederhana yang berdampak besar.

Oooh, begini to maksud manufacturing hope-nya Pak Dahlan itu. Bahwa segala kerumitan dan keruwetan permasalahan yang terlihat begitu erat mencekeram ternyata tidak sebanding jika fokus sudut pandangnya sedikit ‘dialihkan’ kepada besarnya potensi dan kemungkinan-kemungkinan positif yang muncul jika kita melakukan sesuatu. Demikan, saya makin ‘ngeh‘ istilah manufacturing hope sang Menteri BUMN apalagi setelah membaca paragraf terakhirnya:

Memang sebulan pertama ini baru hope yang bisa dibangun. Tapi, kalau sebuah hope bisa membuat hidup kita lebih bergairah, mengapa kita tidak manufacturing hope. Bahan bakunya gampang didapat: niat baik, ikhlas, kreativitas, tekad, dan totalitas. Semuanya bisa diperoleh secara gratis!

Selamat berindustrialisasi harapan, pak. Sukses!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.