Keterlihatan seseorang yang merokok di tv akan secara tegas di sensor oleh rumah produksi atau stasiun televisinya kalau tidak ingin mendapat teguran dari badan sensor yang berwenang. Ada aturan yang mengatur tentang itu. Iklan rokok pun tidak sembarangan jam tayangnya. Jangankan adegan merokok, terlihat bentuk fisik rokoknya, walau sedikit, langsung di sensor. Gak boleh! Pokoknya urusan yang ini, jempol banget deh..
Demikian juga pada sinetron, jika sedikit saja terlihat bentuk rokok atau kegiatan merokok, CUT!! Langsung sensor. Salut sebenarnya melihat ketegasan aparat negeri ini dalam hal sensor rokok. Sebenarnya bisa juga kan ketegasan dijalankan di negeri ini? Buktinya, ya rokok itu.
Anehnya adegan merokok jauh lebih ‘haram’ dari pada siaran berbau pornografi, yang mempertontonkan paha dan pameran pusar para penyanyi dan artis film maupun sinetron. Lebih ‘haram’ dari minimnya rok-rok yang dipakai penari-penari yg berjoget2 di panggung dalam acara live show di tv, lebih haram dari judul-judul film yang berkonotasi birahi, lebih haram dari iklan-iklan sabun dan kosmetik yang memperlihatkan punggung si bintang iklan tanpa kutang. Kontras!
Kenapa ya masalah rokok bisa tegas dan langsung direspon, sedangkan hal-hal berbau pornografi, tidak? Apakah karena alasan murahan bahwa ‘pamer aurat selama untuk hiburan adalah bagian dari seni’ bisa mematahkan ketegasan untuk tidak disensor? Alasan seni? Alasan budaya? Kalau seperti itu, apakah juga diterima jika merokok adalah bagian dari seni? Rokok bagian budaya? Bisakah diterima? Sungguh, tidak ada yang lebih menggelikan dari pihak berwenang yang membuat statemen buka aurat adalah seni dan bukan pornografi. Sungguh menggelikan.
Seharusnyalah pihak berwenang memberlakukan ketegasan yang sama tentang pornografi seperti halnya rokok. Toh, hanya orang-orang tertentu yang menganggap pornografi adalah seni.
Memang merokok perlu diwaspadai penyebarannya. Tapi apakah krisis moral tidak bisa mewabah sehingga tidak perlu sensor yang ketat dan tegas? Pertanyaan yang bodoh ya? Andai anak tetangga saya yang berusia 5 tahun itu sudah mengerti masalah ini, dia pasti akan spontan menjawabnya sambil tertawa geli..
Filed under: Pemikiranku, Santai