Just share my o
pinion. Sejenak kita kenang kembali masa sekolah dulu. Masa masa belajar dari textbook, masa-masa mengerjakan PR dari diktat sekolah. Rasanya masih terbayang wajah-wajah para guru kita yang begitu mulia sedang menerangkan materi dari buku diktat kala itu.
Sekarang, setelah kita lepas dari bangku sekolah dan terjun langsung ke kehidupan sesungguhnya, baru kita sadari bahwa praktek yang seharusnya menjadi inti dari pendidikan itu sendiri sangatlah minim. Sangat kecil prosentasenya dibanding seabrek-abrek materi yang tertulis di buku pelajaran kita.
Sekali lagi, inti dari pelajaran adalah praktek. CMIIW. Kalo kita mau jujur, apa sih gunanya ujian sewaktu kita sekolah dulu? Ingin lulus? Jujur, apa yang ingin dicapai dengan model ujian seperti sekolah kita dulu? Kalaupun hafal materi-materi yang diajarkan tapi tidak dipraktekkan, lha buat apa? Kalau sekedar ingin lulus, mendingan materi ujiannya saja yang diajarkan sejak kelas satu untuk dihapal. Selesai urusan, hemat waktu.
Produk dari pendidikan negeri ini adalah kita sendiri. Kita bisa membahas model seperti ini karena memang kita sudah melakukannya, bahkan sudah lulus dari sekolah itu. Sekali lagi, jujur saja, apa manfaat hafalan di sekolah dulu untuk kehidupan kita sekarang? Tetap ada sih manfaatnya. Tapi seberapa besar manfaatnya? Seberapa besar pengaruhnya sekarang?
Menguasai hafalan sedikit sekali artinya jika tidak dibarengi dengan prakteknya. Meski itu hafalan surat dari kitab suci sekalipun, tanpa praktek jadinya akan non-sens !
Di Eropa, pelajaran anak kelas 6 SD setara dengan kelas 2 SD di Indonesia. Bukan bermaksud mengagung-agungkan dan mengkiblatkan diri pada negara maju, tapi sekedar menyajikan contoh model pendidikan yang berbeda dengan kita di sini. Kebetulan saja Eropa punya model yang berbeda. Bagi mereka BASIC lebih penting. Walau sedikit tapi benar-benar dikuasai.
Kita sebagai produk dari model pendidikan negeri ini telah merasakan betul hasil pendidikan kita dulu. Selama sekian tahun di usia dasar, waktu kita tercuri untuk fokus pada sebagian kecil kecerdasan saja. Itupun tidak maksimal. Segalanya diukur dengan iklim kompetitif berupa nilai kuantitatif di rapor. Sedikit sekali kita berkesempatan untuk mengembangkan kreativitas sesuai kecerdasan yang kita miliki. Jiwa inovasi dalam diri kita secara bertahap tergerus dari waktu ke waktu, dan berbanding terbalik dengan mental rasa ‘takut salah’ kita yang menumpuk dari waktu ke waktu.
Sekarang saatnya kita membandingkan dengan kurikulum anak-anak kita saat ini. Metode pengajaran yang dilakukan jauh lebih maju, alat peraganya pun demikian. Guru-guru yang mengajarpun semakin bermutu dan semakin kreatif. (untuk para guru, disini saya sampaikan salam takzim dan rasa hormat saya yang setinggi-tingginya). Namun, ironisnya model pendidikan yang diterapkan tetaplah sama: Full teori minim praktek. Bahkan lebih sadis lagi, materinya semakin ditambah-tambah. Lha buat apa? Mestinya materi prakteklah yang harus ditambah porsinya.
Andil dalam membentuk basic untuk anak-anak kita demi kehidupannya kelak akan menjadi tanggung jawab kita. Bagi kita yang fokus pada potensi dasar anak, tentunya tidak akan ada pengaruh besar dengan model kurikulum pendidikan formal saat ini, bagaimanapun bentuknya. Tidak perlu ambil pusing dengan nilai-nilai rapornya. Tidak perlu risau jika nilai anak kita lebih rendah dibanding teman-temannya. Tidak perlu memaksakan harus ikut pelajaran tambahan (les) pada anak. Hal yang demikian pasti terjadi bagi kita yang telah mengetahui potensi dasar anak kita, dan berkesempatan untuk mengembangkan bakat dan minat sang anak.
Namun bagi yang lain, simbol-simbol nilai rapor masih menjadi fokusnya dan menganggap itu sebagai satu-satunya tolok ukur kesuksesan anak tanpa mau tahu potensi yang dimiliki si anak. Kasihan anak kita. Demi tuhan, kasihan. Sang anak kita paksa untuk masuk ke alam tekanan jiwa. Usia mereka masih terlalu dini. Kita telah memperkenalkan rasa takut jika bernilai jelek pada anak kita, rasa takut tidak naik kelas, rasa takut tidak lulus. Percaya atau tidak, semua ketakutan itu sama sekali tidak bernilai. Sungguh tidak bernilai. Kasihan anak kita.
Semoga kita sebagai orang tua tidak mengabaikan POTENSI anak-anak kita demi mengejar simbol berupa nilai rapor yang (masih) menjadi indikator sukses dari model pendidikan formal di negeri ini.
Mohon sampaikan salam saya buat anak anda, sang Masterpiece yang akan membuat anda bangga padanya kelak.
*
Filed under: Pemikiranku, Santai
Semoga kita tidak mengabaikan POTENSI anak2 kita demi mengejar simbol berupa nilai rapor yang (masih) menjadi indikator sukses dari model pendidikan formal di negeri ini.
semoga menjadi bapak yang sholeh hihi
Anak anak saiki pancen sakno yo? Pelajarannya buayak baget. Nek ujian org tuanya juga ikut stres.. .
Glodhaaakk… lha koq uapik tenan blogmu Ronnn…
tulisane yo uapikk.. mencerahkanku!
suskes teruss yaa..