Manufacturing Hope-nya Pak Dahlan

Tag yang di create oleh Dahlan Iskan tidak lama setelah menjabat Menteri BUMN memang telah banyak beredar terutama di dunia maya. Bukan ingin ikut nimbrung pada tag yang sedang ramai, tapi terus terang perhatian saya sedikit tercuri oleh tulisan beliau di media offline beberapa hari lalu.

Kata Manufacturing hope pertama kali saya dengar memang tidak menyiratkan sesuatu yang menarik. Entahlah, mungkin karena menggunakan bahasa asing, sehingga tidak terjiwai oleh hati saya, hehehe… Ternyata setelah di-Indonesia-kan pun belum menyetuh hati saya: Industrialisasi harapan, masih merupakan kata yang asing bagi saya. Harapan kok di industri-industrikan, begitu sederhananya logika saya. Memang kalo menyoal tentang intlegensia bahasa, saya tegas mengakuinya: Gak bakat! hahaha..

Akhir Nopember lalu beliau dengan lugasnya menuliskan betapa merananya kondisi hotel-hotel BUMN di Bali. Meski dukungan berupa letak strategis dan aset yang luar biasa, tidak mampu menopang beratnya daya saing terhadap hotel-hotel baru yang terus bertumbuh di sekitarnya. Hotel-hotel BUMN tersebut bagaikan meluncur turun ke dalam jurang kemerosotan dan kekumuhan. Demikian tulisan beliau.

Dengan gaya khasnya Dahlan Iskan menuliskan kondisi yang demikian dengan mengobservasi sedekat mungkin ‘hawa’ dan ‘rasa’ di titik lokasinya, saat berada di sela-sela acara KTT Asean di Bali. “Saya perhatikan mulai dapurnya, ruang cucinya, kamarnya, kebunnya, pantainya, hingga cottage-cottage-nya. Ternyata benar. Bukan hanya telah menjadi yang terjelek di Nusa Dua, tapi juga sudah mau ambruk. Di sini saya juga harus manufacturing hope. Tahun depan hotel yang sangat luas ini harus sudah mulai dibangun ulang.” Demikian kutipan tulisan beliau.

Saya cuplik ini bermaksud untuk menggambarkan demikian parahnya kondisi yang terjadi di sana. Menteri BUMN ini mengkomunikasikan manufacturing hopenya dengan detil-detil permasalahan pelik yang mengitari obyeknya. Tapi dengan menegaskan kekuatan-kekuatan dan potensi obyeknya, mantan Dirut PLN ini dengan jeli menggugah semangat semua pihak untuk membuka impian dan harapan dari berbagai aspek. Ya kekuatan sejarahnya, ya lokasi strategisnya, ya potensi SDMnya, pertumbuhan devisanya, dan berbagai aspek lainnya. Bahkan diselingi dengan ide-ide sederhana yang berdampak besar.

Oooh, begini to maksud manufacturing hope-nya Pak Dahlan itu. Bahwa segala kerumitan dan keruwetan permasalahan yang terlihat begitu erat mencekeram ternyata tidak sebanding jika fokus sudut pandangnya sedikit ‘dialihkan’ kepada besarnya potensi dan kemungkinan-kemungkinan positif yang muncul jika kita melakukan sesuatu. Demikan, saya makin ‘ngeh‘ istilah manufacturing hope sang Menteri BUMN apalagi setelah membaca paragraf terakhirnya:

Memang sebulan pertama ini baru hope yang bisa dibangun. Tapi, kalau sebuah hope bisa membuat hidup kita lebih bergairah, mengapa kita tidak manufacturing hope. Bahan bakunya gampang didapat: niat baik, ikhlas, kreativitas, tekad, dan totalitas. Semuanya bisa diperoleh secara gratis!

Selamat berindustrialisasi harapan, pak. Sukses!

Rokok vs Bintang Iklan Tanpa Kutang

Keterlihatan seseorang yang merokok di tv akan secara tegas di sensor oleh rumah produksi atau stasiun televisinya kalau tidak ingin mendapat teguran dari badan sensor yang berwenang. Ada aturan yang mengatur tentang itu. Iklan rokok pun tidak sembarangan jam tayangnya. Jangankan adegan merokok, terlihat bentuk fisik rokoknya, walau sedikit, langsung di sensor. Gak boleh! Pokoknya urusan yang ini, jempol banget deh..

Demikian juga pada sinetron, jika sedikit saja terlihat bentuk rokok atau kegiatan merokok, CUT!! Langsung sensor. Salut sebenarnya melihat ketegasan aparat negeri ini dalam hal sensor rokok. Sebenarnya bisa juga kan ketegasan dijalankan di negeri ini? Buktinya, ya rokok itu.

Anehnya adegan merokok jauh lebih ‘haram’ dari pada siaran berbau pornografi, yang mempertontonkan paha dan pameran pusar para penyanyi dan artis film maupun sinetron. Lebih ‘haram’ dari minimnya rok-rok yang dipakai penari-penari yg berjoget2 di panggung dalam acara live show di tv, lebih haram dari judul-judul film yang berkonotasi birahi, lebih haram dari iklan-iklan sabun dan kosmetik yang memperlihatkan punggung si bintang iklan tanpa kutang. Kontras!

Kenapa ya masalah rokok bisa tegas dan langsung direspon, sedangkan hal-hal berbau pornografi, tidak? Apakah karena alasan murahan bahwa ‘pamer aurat selama untuk hiburan adalah bagian dari seni’ bisa mematahkan ketegasan untuk tidak disensor? Alasan seni? Alasan budaya? Kalau seperti itu, apakah juga diterima jika merokok adalah bagian dari seni? Rokok bagian budaya? Bisakah diterima? Sungguh, tidak ada yang lebih menggelikan dari pihak berwenang yang membuat statemen buka aurat adalah seni dan bukan pornografi. Sungguh menggelikan.

Seharusnyalah pihak berwenang memberlakukan ketegasan yang sama tentang pornografi seperti halnya rokok. Toh, hanya orang-orang tertentu yang menganggap pornografi adalah seni.

Memang merokok perlu diwaspadai penyebarannya. Tapi apakah krisis moral tidak bisa mewabah sehingga tidak perlu sensor yang ketat dan tegas? Pertanyaan yang bodoh ya? Andai anak tetangga saya yang berusia 5 tahun itu sudah mengerti masalah ini, dia pasti akan spontan menjawabnya sambil tertawa geli..

Just My Opinion

Just share my opinion. Sejenak kita kenang kembali masa sekolah dulu. Masa masa belajar dari textbook, masa-masa mengerjakan PR dari diktat sekolah. Rasanya masih terbayang wajah-wajah para guru kita yang begitu mulia sedang menerangkan materi dari buku diktat kala itu.

Sekarang, setelah kita lepas dari bangku sekolah dan terjun langsung ke kehidupan sesungguhnya, baru kita sadari bahwa praktek yang seharusnya menjadi inti dari pendidikan itu sendiri sangatlah minim. Sangat kecil prosentasenya dibanding seabrek-abrek materi yang tertulis di buku pelajaran kita.

Sekali lagi, inti dari pelajaran adalah praktek. CMIIW. Kalo kita mau jujur, apa sih gunanya ujian sewaktu kita sekolah dulu? Ingin lulus? Jujur, apa yang ingin dicapai dengan model ujian seperti sekolah kita dulu? Kalaupun hafal materi-materi yang diajarkan tapi tidak dipraktekkan, lha buat apa? Kalau sekedar ingin lulus, mendingan materi ujiannya saja yang diajarkan sejak kelas satu untuk dihapal. Selesai urusan, hemat waktu.

Produk dari pendidikan negeri ini adalah kita sendiri. Kita bisa membahas model seperti ini karena memang kita sudah melakukannya, bahkan sudah lulus dari sekolah itu. Sekali lagi, jujur saja, apa manfaat hafalan di sekolah dulu untuk kehidupan kita sekarang? Tetap ada sih manfaatnya. Tapi seberapa besar manfaatnya? Seberapa besar pengaruhnya sekarang?

Menguasai hafalan sedikit sekali artinya jika tidak dibarengi dengan prakteknya. Meski itu hafalan surat dari kitab suci sekalipun, tanpa praktek jadinya akan non-sens !

Di Eropa, pelajaran anak kelas 6 SD setara dengan kelas 2 SD di Indonesia. Bukan bermaksud mengagung-agungkan dan mengkiblatkan diri pada negara maju, tapi sekedar menyajikan contoh model pendidikan yang berbeda dengan kita di sini. Kebetulan saja Eropa punya model yang berbeda. Bagi mereka BASIC lebih penting. Walau sedikit tapi benar-benar dikuasai.

Kita sebagai produk dari model pendidikan negeri ini telah merasakan betul hasil pendidikan kita dulu. Selama sekian tahun di usia dasar, waktu kita tercuri untuk fokus pada sebagian kecil kecerdasan saja. Itupun tidak maksimal. Segalanya diukur dengan iklim kompetitif berupa nilai kuantitatif di rapor. Sedikit sekali kita berkesempatan untuk mengembangkan kreativitas sesuai kecerdasan yang kita miliki. Jiwa inovasi dalam diri kita secara bertahap tergerus dari waktu ke waktu, dan berbanding terbalik dengan mental rasa ‘takut salah’ kita yang menumpuk dari waktu ke waktu.

Sekarang saatnya kita membandingkan dengan kurikulum anak-anak kita saat ini. Metode pengajaran yang dilakukan jauh lebih maju, alat peraganya pun demikian. Guru-guru yang mengajarpun semakin bermutu dan semakin kreatif. (untuk para guru, disini saya sampaikan salam takzim dan rasa hormat saya yang setinggi-tingginya). Namun, ironisnya model pendidikan yang diterapkan tetaplah sama: Full teori minim praktek. Bahkan lebih sadis lagi, materinya semakin ditambah-tambah. Lha buat apa? Mestinya materi prakteklah yang harus ditambah porsinya.

Andil dalam membentuk basic untuk anak-anak kita demi kehidupannya kelak akan menjadi tanggung jawab kita. Bagi kita yang fokus pada potensi dasar anak, tentunya tidak akan ada pengaruh besar dengan model kurikulum pendidikan formal saat ini, bagaimanapun bentuknya. Tidak perlu ambil pusing dengan nilai-nilai rapornya. Tidak perlu risau jika nilai anak kita lebih rendah dibanding teman-temannya. Tidak perlu memaksakan harus ikut pelajaran tambahan (les) pada anak. Hal yang demikian pasti terjadi bagi kita yang telah mengetahui potensi dasar anak kita, dan berkesempatan untuk mengembangkan bakat dan minat sang anak.

Namun bagi yang lain, simbol-simbol nilai rapor masih menjadi fokusnya dan menganggap itu sebagai satu-satunya tolok ukur kesuksesan anak tanpa mau tahu potensi yang dimiliki si anak. Kasihan anak kita. Demi tuhan, kasihan. Sang anak kita paksa untuk masuk ke alam tekanan jiwa. Usia mereka masih terlalu dini. Kita telah memperkenalkan rasa takut jika bernilai jelek pada anak kita, rasa takut tidak naik kelas, rasa takut tidak lulus. Percaya atau tidak, semua ketakutan itu sama sekali tidak bernilai. Sungguh tidak bernilai. Kasihan anak kita.

Semoga kita sebagai orang tua tidak mengabaikan POTENSI anak-anak kita demi mengejar simbol berupa nilai rapor yang (masih) menjadi indikator sukses dari model pendidikan formal di negeri ini.

Mohon sampaikan salam saya buat anak anda, sang Masterpiece yang akan membuat anda bangga padanya kelak.

*

Mulai Menulis Blog lagi.

Hari Jumat, waktunya pulang ke rumah. Tapi ku sempatkan dulu untuk menulis sesuatu mumpung masih ada waktu. Hal ini harus aku paksakan, karena sudah bertahun-tahun blog-ku ini nganggur tak bertuan dan begitu berdebu karena tak terjamah tangan manusia… *halah*

Memang tidak ada ayat maupun hadits yang mewajibkan untuk menulis bagi manusia di dunia ini. Namun jika aku tidak mewajibkan diri, mana bisa ada waktu untuk menulis? Makanya biar nggak kaku jari-jari ini, aku wajibkan diri untuk menulis, dah.. Eit, tunggu, tunggu.. Jangan-jangan ada yang salah tafsir lagi. Kata “wajib” disini maksudku untuk diriku sendiri lho ya, bukan untuk anda atau orang lain. Bisa-bisa aku dituduh bid’ah nanti. Haddeuh!

Oke, mulai nulis. Tapi, nulis apa ya? Punya ide nggak? Nggak lucu kan judulnya aja tentang menulis, tapi nyatanya nggak ada yang ditulis. Intinya, tulisan ini tentang membangkitkan gairah nafsu, eh, gairah menulis yang telah pupus karena bertahun-tahun tidak menulis. Kira-kira begitulah. Masih nyari ide.

Sekian menit berlalu, kok ide ku untuk tulisan ini belum nongol-nongol juga ya. Aduh, jangan-jangan karena kelamaan nggak nulis di blog, aku sudah nggak punya kemampuan untuk nulis lagi.. Hiii.. ngeri. *begidig* Tapi, bagaimanapun juga aku harus berjuang! Harusss (pake s tiga biji) berjuang tanpa kenal lelah, pantang menyerah. *tapi masih bengong*

Gimana nih? anybody help me, please.. Kasih ide dong, aku mau nulis nih. Bapak-bapak, ibu-ibu, siapa yang punya anak bilang aku, aku yang tengah malu.. Eh, kok malah nyanyi lagu Cari Jodohnya Wali sih. Maksudku siapa saja yang punya ide untuk bahan tulisanku ini, tolong bantuin aku. Dari tadi belum satu paragraf pun aku tulis. Apa benar ya, kalo menulis itu susah? *lebai dot com*

Tunggu! Satu, dua, tiga, empat, lima paragraf!! Sekarang yang ke-enam. Cihui.. Ternyata tak sengaja, lewat depan rumahmu.. Eit, malah nyanyi *tenda biru* lagi. Tak sengaja tulisanku ini sudah masuk semester ke-enam. Eh salah! Masuk pada paragraf ke-enam, bung! Kata siapa menulis itu susah? Nyatanya, tanpa ide pun jadi enam paragraf yang terdiri dari 360 kata. Wooii, ternyata mudah. Wuih, jadi semangat nulis lagi nih. Ayo semua, mari budayakan menulis. Ingat, goresan tinta yang luntur lebih berharga daripada ingatan. Artinya? Yups, sepenting apapun sesuatu, lebih bermanfaat jika dituliskan daripada sekedar dalam bayangan. OK? Let’s writting!!

Bukti Pembayaran

Ini bukti pemasukan di akunku

Informasi, dimana kau berada?

Saya lupa di buku mana saya baca, dimana disitu tertulis “Di Era Pengetahuan, informasi sangat mudah didapat, sekaligus sangat cepat informasi tersebut menjadi basi (expired)”

Informasi di Masyarakat

Kenyataan yang terjadi saat ini, semua sistem informasi menggunakan teknologi komputer. Apa iya? Informasi umum yang kita dapatkan memang banyak / sebagian besar berasal dari media massa seperti koran, tv, internet, dlsb. Namun, kemasan itu hanyalah mediator kita untuk mendapatkan informasi. Informasi tersebut sebenarnya sudah diolah dari data2 awal yang sudah dikemas sedemikian rupa untuk kepentingan umum. Nah sekarang bagaimana tentang informasi yang lebih spesifik, yang lebih khusus untuk kepentingan kita dimana tidak ada yang menyediakan info tersebut di media broadcast seperti tv, radio?
Tidak ada yang menyangkal bahwa sejak internet mulai dikenal masyarakat di dunia ini, informasi seolah membanjiri siapa saja yang mengaksesnya. Hanya dengan satu klik saja, informasi sudah tersedia dan tertampil di layar monitor yang bersumber dari seluruh penjuru dunia, mulai dari informasi global sampai dengan detilnya, bahkan beberapa kata kunci yang terkait dengan informasi tersebutpun ikut tertampilkan.

Informasi, untuk beberapa kalangan masyarakat memang sudah menjadi modal utama dalam menjalankan roda kehidupannya. Tetapi tidak sedikit pula masyarakat yang tidak atau setidaknya belum menyadari bahwa informasi yang ada disekelilingnya bisa merubah cara pandang, bahkan bisa juga secara ekstrim saya mengatakan bisa merubah hidup dan kehidupan seseorang ataupun organisasi.

Di Indonesia, masyarakat yang demikian ini masih banyak dijumpai, jangan dulu melihat di kalangan pedesaan atau perkotaan, di mana saja dapat kita temui bahwa seseorang belum menyadari bahwa kehidupannya dapat berubah setelah mendapat beberapa informasi.

Tidak jauh berbeda, dalam organisasi perusahaan pun banyak dijumpai perusahaan yang belum memanfaatkan pentingnya informasi yang tersedia. Terutama pada perusahaan lokal yang lingkup kerjanya dalam wilayah regional. Sayangnya dalam tulisan ini tidak memaparkan lebih jauh seperti apa organisasi yang sudah atau belum memanfaatkan informasi beserta contoh praktisnya, karena memang tulisan ini ditulis hanya sebagai triger untuk mengingatkan bahwa sebuah informasi itu (bisa) lebih dari informasi itu sendiri..

Informasi Sebagai Sebuah Sistem

Informasi adalah sebuah kata sederhana yang menggambarkan sesuatu hal yang dibutuhkan untuk keperluan pada sebuah kegiatan. Sesederhana itukah informasi? Bagaimana pula jika informasi menjadi sebuah sistem?

Sistem Informasi dalam situs Wikipedia di istilahkan sebagai “kumpulan komponen pembentuk sistem yang mempunyai keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya yang bertujuan menghasilkan suatu informasi dalam suatu bidang tertentu”. Artian wikipedia diatas menempatkan informasi sebagai sebuah obyek dari hasil sebuah sistem. Sepenting itukah sebuah informasi ditempatkan sehingga harus menautkan beberapa komponen yang membentuk sistem?

Konsep dasar sebuah informasi perlu dipahami terlebih dahulu karena informasi itu sendiri adalah produk dari sistem informasi, dimana banyak orang salah memahami tentang konsep ini.

Beberapa praktisi IT banyak yang menganggap tahu tentang informasi dan meyakini bahwa sistem yang mereka buat sudah menghasilkan informasi, padahal yang dihasilkan bukannya informasi, melainkan hanya sekedar sampah (garbage). Karena output atau obyek yang dihasilkan tidak memiliki nilai sebuah informasi.

Dalam bukunya, Jogyanto (2003) menegaskan bahwa pemahaman tentang konsep dasar sistem informasi sangat penting. Bahkan konsep yang tidak kalah pentingnya untuk dipahami adalah komponen-komponen pembentuk sistem itu sendiri. Ketidak-mampuan mengidentifikasikan dan memahami komponen-komponen ini mengakibatkan sistem yang dibuat tidak mencapai tujuannya.

Ternyata, informasi dalam kaitannya dengan sistem setidaknya membutuhkan keahlian / ekspertasi dalam bidang-bidang tertentu. Karena akibat dari kesalahan yang ditimbulkan, bisa fatal jika informasi yang dihasilkan menjadi acuan untuk langkah-langkah selanjutnya.

Informasi dan Manajemen

Sekali lagi, informasi adalah sebuah keluaran/output dari suatu sistem. Nah, sistem yang mengeluarkan informasi itu, sistem seperti apa?

Salah satu pengguna informasi adalah perusahaan yang dikelola oleh manajer dalam sebuah manjemen. Sistem yang memproduksi informasi untuk manajemen perusahaan disebut Sistem Informasi Manajemen atau yang biasa disingkat SIM.

Sistem Informasi Manajemen merupakan sistem informasi yang menghasilkan keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tertentu dari manajemen.

Dalam buku Sistem Teknologi Informasi, Jogiyanto mengatakan bahwa SIM sebenarnya menunjukkan sistem-sistem informasi fungsional, yaitu sistem-sistem informasi yang diterapkan di fungsi-fungsi organisasi. Dimana sistem ini memberikan informasi kepada para manajer fungsional.

Beberapa sistem informasi dibawah ini merupakan sistem informasi fungsional yang juga merupakan kumpulan sistem yang menjadi sistem informasi manajemen:

  • Sistem informasi akuntansi (accounting information systems), menyediakan informasi dan transaksi keuangan.
  • Sistem informasi pemasaran (marketing information systems), menyediakan informasi untuk penjualan, promosi penjualan, kegiatan-kegiatan pemasaran, kegiatan-kegiatan penelitian pasar dan lain sebagainya yang berhubungan dengan pemasaran.
  • Sistem informasi manajemen persediaan (inventory management information systems).
  • Sistem informasi personalia (personnel information systems).
  • Sistem informasi distribusi (distribution information systems).
  • Sistem informasi pembelian (purchasing information systems).
  • Sistem informasi kekayaan (treasury information systems).
  • Sistem informasi analisis kredit (credit analysis information systems).
  • Sistem informasi penelitian dan pengembangan (research and development information systems).
  • Sistem informasi teknik (engineering information systems)

Informasi dan Teknologi

Merujuk pada ensiklopedia yang ada di situs Wikipedia, Teknologi Informasi dilihat dari kata penyusunnya adalah teknologi dan informasi. Secara mudahnya teknologi informasi adalah hasil rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dari pengirim ke penerima sehingga:

  • lebih cepat aksesnya
  • lebih luas sebarannya
  • lebih lama penyimpanannya

Di bawah ini seklumit ulasan dari situs tersebut. Agar lebih mudah memahaminya kita lihat perkembangan teknologi informasi. Pada awal sejarah, manusia bertukar informasi melalui bahasa. Maka bahasa adalah teknologi. Bahasa memungkinkan seseorang memahami informasi yang disampaikan oleh orang lain. Tetapi bahasa yang disampaikan dari mulut ke mulut hanya bertahan sebentar saja, yaitu saat si pengirim menyampaikan informasi melalui ucapannya. Setelah ucapan itu selesai maka informasi berada ditangan si penerima. Selain itu jangkauan suara juga terbatas. Sampai jarak tertentu meskipun masih terdengar informasi yang disampaikan lewat bahasa suara akan terdegradasi bahkan hilang sama sekali.

Setelah itu teknologi penyampaian informasi berkembang melalui gambar. Dengan gambar jangkauan informasi bisa lebih jauh. Gambar ini bisa dibawa-bawa dan disampaikan kepada orang lain. Selain itu informasi yang ada bertahan lebih lama. Beberapa gambar peninggalan jaman purba masih ada sampai sekarang sehingga manusia sekarang dapat (mencoba) memahami informasi yang ingin disampaikan pembuatnya.

Adanya alfabet dan angka arabik memudahkan penyampaian informasi dari yang sebelumnya satu gambar mewakili suatu peristiwa dibuat dengan kombinasi alfabet, atau penulisan angka yang tadinya MCMXLIII diganti dengan 1943. Teknologi ini memudahkan penulisan informasi.

Teknologi percetakan memungkinkan pembuatan pintu informasi lebih cepat lagi. Teknologi elektronik seperti radio, tv, komputer bahkan membuat informasi menjadi lebih cepat tersebar di area yang lebih luas dan lebih lama tersimpan.

Dimana Informasi Kita Tempatkan?

Nah, dari uraian ringkas diatas, kita dapat menyadari bahwa informasi yang dulunya hanyalah sebuah obyek sederhana, yang bisa didapat walaupun kita pada posisi pasif (karena tersedia informasi broadcast), saat ini telah berkembang luas sampai-sampai tercipta sebuah sistem yang khusus untuk mengelola informasi untuk banyak kepentingan. Bahkan kitapun dapat mencarinya jika kita aktif.

Kembali ke masalah awal, apakah benar pernyataan saya bahwa tidak sedikit masyarakat yang tidak atau setidaknya belum menyadari pentingnya informasi yang ada di sekelilingnya, anda dapat membuktikan sendiri dengan melontarkan pertanyaan sederhana: “Apakah anda masih sulit untuk mendapatkan informasi?”

Selamat ber-survey-ria…

Ngiler di Bis Kota

“Walah, jam segini baru bangun…” Aku langsung lari ke kamar mandi. Jam sudah menunjukkan pukul 06.05 pagi. Semalam memang rumahku kedatangan tamu, beberapa tetangga satu kampung. Awalnya tamu-tamu tersebut membicarakan masalah lingkungan RT. Kebetulan memang saat tulisan ini ditulis, aku masih menjabat sebagai Ketua RT (ganteng2 gini pernah jadi pejabat, loh). Lama-kelamaan pokok bahasannya melantur tak tentu arah, panjang lebar, guyon-guyon dst, dst. Sampai “pertemuan” informal ini ditutup sekitar pukul 00.30 pada kondisi semuanya sudah pada ngelantur karena ngantuk berat.

Alhasil pada pagi harinya aku (dan isrtiku, kompak) terlambat bangun dengan sangat sukses. Hehehe.. Mulailah rutinitas rumah di pagi hari ini seperti biasanya tapi dengan speed yang lebih tinggi tentunya. Semuanya dilakukan dengan kesusu, dengan tergesa-gesa.

Mataku masih terasa berat saat aku berangkat. Kebetulan hari ini Pak Langgeng, teman senior sekantor, ijin terlambat masuk kantor. Biasanya sih aku selalu numpang mobil beliau, berangkat sama-sama (Thanks berat for Pak Langgeng atas kebaikannya selama ini. Semoga Allah memberkahi). Berhubung beliau datang terlambat, terpaksa deh aku naik bis kota pagi ini.

Sampai di terminal aku langsung masuk bis, langsung cari tempat duduk paling pinggir, dekat jendela. Gorden saya tutupkan. “Biar nggak keganggu pemandangan luar”, pikirku berniat tidur lagi. Ambil posisi serileks mungkin, dan beberapa saat setelah bis masuk gerbang tol, aku sudah melayang lagi di alam mimpi. Pulas banget rasanya.

“……….Mas, ongkosnya mas…” Entah sudah berapa kali kondektur bis itu menegurku, sampai pada akhirnya aku terbangun. Aku kaget sejenak. Reflek tanganku merogoh saku kemeja, kusodorkan uangnya, kalo gak salah sepuluh ribuan. Kuterima kembaliannya, dan kuteruskan lagi acara bobok pagi setelah interupsi kondektur tadi…..

Perjalanan antara rumah dan kantor rata-rata ditempuh selama 45 menit. Relatif lancar karena trayek bis ini masuk jalan tol, bebas hambatan. Lumayan lah nambah-nambah tabungan tidurku. Selama ini memang jarang sekali aku tidur di pagi hari, karena memang jarang naik bis kota, kebanyakan sih numpang Avanza-nya Pak Langgeng (sekali lagi, thanks a lot for Pak Langgeng). Kalau bareng dengan Pak Langgeng pasti gak bakalan tidur, ngobrol terus sepanjang perjalanan.

“…..Pahlawan…pahlawan…Persiapan yang turun pahlawan…!!” Aku tersentak bangun mendengar teriakan kondektur. Sudah dekat, waktunya siap-siap turun nih. Bergegas turun, aku berdiri dan melewati seorang perempuan yang duduk ditengah, dan seorang ibu dengan memangku anaknya yang berusia sekitar 5 tahunan. “Permisi, bu… permisi…” Sambil senyum-senyum perempuan tadi sedikit bergeser seolah menjawab ‘Silakan pak’. Senyumnya terus tersungging. Saya beringsut keluar.

Setelah turun dari bis, kulanjutkan dengan jalan kaki beberapa meter menuju kantor. Di sini aku merasakan sesuatu di kemejaku, pas di atas dada sedikit basah. Kupastikan lagi, ternyata memang kemejaku basah “Air apa ini ya? Kok bisa-bisanya sampai disini?” Tanda tanya besar agaknya terlihat di wajahku.

Setelah kupikir-pikir lagi……

“Alaa maaakk…!! Ternyata waktu tidur selama perjalanan tadi, air liurku tak hentinya menetes di baju, tes..tes..tes..” Aduh aduh… betapa malunya. Gedubrak banget deh.. Ingin salto tiga kali rasanya. Hadduuhh!

Kebayang perempuan yang duduk disebelahku tadi. Kira-kira gimana ya perasaannya melihatku ngiler dengan penuh pesona. Pantes aja dia senyum-senyum melulu. Aduuuh…  ampun deh. Belum lagi kalau si anak yang dipangku ibunya tadi melihatku,  pastilah dia akan melaporkan kepada ibunya dengan lengkap untuk setiap tetes liur yang jatuh. Ampyong deh…

 

Blog is a great “stuff”

Pagi ini aku bangun sedikit malas. Maklumlah baru saja libur 4 hari. Puas rasanya menikmati hari-hari tanpa rutinitas. Setelah sholat subuh, aku berbaring lagi. Hampir saja ketiduran kalo saja aku gak mendengar anakku Azra berceloteh riang.

“Ayah, mama, aku mau ngecat rumah dulu ya…” kudengar suara anakku nyaring.

Waduh.. gajah makan kawat… Memang hari terakhir liburanku kemarin, seharian aku pakai untuk ngecat rumah. Nah, sisa-sisa cat yang ada di kaleng masih berserakan di halaman belakang. Rupanya anak perempuanku Azra yang masih 4 tahun itu mengambil kaleng kecil sekalian kuasnya.

Terperanjatlah aku. Bisa bopeng-bopeng nanti rumah ini kalau sampe dicat jari mungil anakku. Secepat kilat aku bangun, kuhampiri anakku yang ternyata memang sudah bawa cat dan kuas kecil.

“Hallo mbak Azra anakku cayang… mau ngecat yang mana nih..”

“Ini lho yah, aku mau ngecat ini biar ada gambar gajah sama burung sama matahari…” tunjuk anakku ke tembok depan.

Hihihi… dalam bayanganku kalau jadi ada gambar-gambar itu, kan seperti TK jadinya rumahku. Oalah nak, lucunya kamu ini.

“Nanti kalo rumahnya mbak Azra ini digambar-gambari kan seperti TK Alif (TK Alif itu sekolahnya anakku). Nanti anak-anak pada sekolah disini, trus rumah ini jadi sekolah, trus kalo jadi sekolah mbak Azra mau tidur dimana hayo..?”

Azra diam. Gayanya kayak mikirin negara. Serius banget…

“Gini aja, mbak. Ngecatnya ditembok belakang aja ya..”

“Iya yah..” Langsung dia lari ke belakang. Entah dia nggambar apa aku langsung ambil handuk, masuk kamar mandi.

Selesai mandi tak terlihat anakku tadi. Kaleng cat dan kuasnya tergeletak di teras belakang. Kulihat ke kamar, hanya ada adiknya, Azhar, yang masih lelap tidur. Istriku masih nyiapkan sarapan. Kemana ya Azra kok gak kelihatan. Ya sudah, aku ganti baju, sarapan trus berangkat.

Tak tahunya Azra sudah main ke tetangga depan. “Yah, ini mas Dias punya kura-kura kecil, lucu. Sini yah..!” Rupanya Azra melihatku waktu aku mengeluarkan motorku. Kuhampiri sebentar, pamitan lalu langsung berangkat.

Yah itulah sedikit kisahku di pagi hari ini, hari Senin, hari pertama setelah libur panjang. Kayaknya kalo kisah2 kecil seperti ini susah ya nulisnya kalo gak ada blog? masak kemana2 harus bawa buku. Gak praktis. Blog kayak gini kan bisa ditulis sewaktu senggang di kantor, pokoknya bisa disambi lah. Pokoke sip tenan.

Hebat, blog bisa membangkitkan semangat nulis. Kayaknya semua orang harus punya blog deh. Hebat.. hebat. Blog is a great stuff.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.